Logo
GMIM Hagios Singkil Dua
Portal Informasi Jemaat

Shalom,

Selamat Datang di GMIM Hagios Singkil Dua

Ilustrasi Gedung Gereja GMIM Hagios Singkil Dua
Identitas Sinodal

Visi & Misi GMIM

Visi

"GMIM yang Kudus, Am dan Rasuli."

GMIM yang Kudus

Gereja, secara khusus GMIM dipahami sebagai persekutuan orang-orang kudus yang telah dibenarkan dan ditebus oleh Yesus Kristus (1 Korintus 1:30). Gereja adalah kudus oleh sebab Allah memandang kepada kita di dalam Kristus, sebagai manusia yang dosanya telah ditebus oleh kematian serta kebangkitan Kristus.

GMIM yang Am

Kata Am berarti umum, universal, berasal dari bahasa Latin: catholicam. Gereja itu adalah am, karena pekerjaan Yesus merupakan Kepalanya dan bahwasannya Kristus adalah Juruselamat untuk dunia dan seluruh umat manusia, tanpa dibatasi oleh waktu, tempat, suku, ras, maupun strata sosial.

GMIM yang Rasuli

Kata rasuli berarti bersifat kerasulan. Dengan demikian Gereja diutus ke dalam dunia untuk tugas khusus memberitakan keselamatan di dalam Kristus, mengemban tugas kerasulan (apostolat) untuk mewartakan Injil kepada segala makhluk (Markus 16:15).

Misi

1 Meningkatkan kualitas karakter dan spiritualitas Kristiani warga Gereja.

2 Meningkatkan pelayanan misi yang holistik bagi keadilan, perdamaian dan kesejahteraan sosial yang menjamin keberlangsungan keutuhan ciptaan.

3 Meningkatkan keesaan bersama Gereja – Gereja di Indonesia dan di seluruh dunia secara oikumenis.

4 Meningkatkan kapasitas kelembagaan GMIM dalam presbiterial sinodal sebagai Gereja global.

Pelayanan Minggu Ini

Jadwal Ibadah

Berdasarkan warta terbaru tanggal 21 Jun 2026.

Lihat Warta Lengkap
21 Juni 2026
09.00 WITA Pdt. Joudi Libuang, S.Th, M.PdK
18.00 WITA Pdt. Leddy M. Rompis, S.Teol
28 Juni 2026
09.00 WITA Pdt. Leddy M. Rompis, S.Teol
18.00 WITA Pdt. Linda Y. Lumentut, M.Th
Data Sensus Jemaat

GMIM Hagios Singkil Dua

505

Total Jiwa

142

Keluarga

8

Kolom

21

Pelayan

127

PKB

146

WKI

87

Pemuda

46

Remaja

99

Anak

49

Lansia

Buletin Jemaat

Semua Artikel
21 Jun 2026

Inilah Tanda Perjanjian Yang Kuadakan Antara Aku Dan Segala Makhluk Yang Ada Di Bumi

21 - 27 Juni 2026 TEMA BULANAN : Penginjilan Dan Pendidikan Dalam Kehambaan Yang Mengucap Syukur TEMA MINGGUAN : Inilah Tanda Perjanjian Yang Kuadakan Antara Aku Dan Segala Makhluk Yang Ada Di Bumi Kejadian 9:1-17 ALASAN PEMILIHAN TEMA Manusia diciptakan dengan tugas sebagai care-taker (pemelihara semua ciptaan). Namun, dunia sekarang ini cenderung melihat alam sebagai pemenuh kebutuhan manusia, memanfaatkan alam bahkan mengeksploitasinya hingga melampaui batas kemampuan alam itu sendiri. Tindakan ekosida (eksploitasi alam secara masif) ini terjadi di berbagai tempat, termasuk di Indonesia. Sektor penggunaan lahan di Indonesia memberikan kontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca secara global. Maraknya kasus deforestasi (penggundulan hutan), alih fungsi lahan, korupsi tambang, bahkan berbagai tindakan yang menyebabkan polusi air, udara, dan tanah, mengganggu kestabilan hidup manusia serta menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup spesies asli dan endemik di berbagai daerah yang terdampak. Manusia sebagai mahkota ciptaan bertanggung jawab penuh atas terjadinya kerusakan ekologis ini. Dalam iman Kristen, manusia dan alam adalah sesama ciptaan, sehingga kerusakan terhadap alam adalah kegagalan manusia dalam merawat bumi sebagai rumah bersama. Kerusakan masif ini membutuhkan pemulihan, bukan hanya pemulihan parsial tapi justru pemulihan holistik. Realitas inilah yang menjadi dasar perenungan tema INILAH TANDA PERJANJIAN YANG KUADAKAN ANTARA AKU DAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DI BUMI . PEMBAHASAN TEMATIS Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese) Secara tradisional kitab Kejadian dan seluruh kitab Pentateukh (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan) dianggap ditulis oleh Musa. Musa memang merupakan tokoh yang terlibat langsung dalam peristiwa penting sejarah bangsa Israel, namun berdasarkan penelitian, kitab Pentateukh terdiri dari berbagai cerita yang berasal dari beberapa kelompok penulis, waktu, dan tempat yang berbeda. Dengan demikian, proses penulisan Kitab Kejadian dan seluruh kitab Pentateukh dimulai sejak abad ke-10 SM sampai abad ke-6 SM. Berdasarkan isinya, kitab ini terbagi dalam dua bagian, pasal 1-11 tentang sejarah zaman permulaan dan pasal 12-50 tentang sejarah para bapak leluhur Israel. Kejadian 9:1-17 merupakan kelanjutan narasi tentang Nuh yang dimulai pada Kejadian 6. Pasal ini, berdasarkan tradisi ditulis oleh para imam (P). Perikop ini sangat jelas bercirikan re-creation (penciptaan kembali) karena dimulai dengan perintah pertama bagi manusia di bumi yang baru, yakni perintah prokreasi (beranak-cucu) sama seperti dalam Kejadian 1:22 (ay. 1-4). Tuhan Allah menghendaki babak baru kehidupan manusia yang berasal dari keturunan Nuh, seorang yang benar (Ibr. addîq orang yang adil, saleh) dan tidak bercela (Ibr. t mîm sempurna, utuh, tanpa cacat) di hadapan-Nya (Kej. 6:9). Pada bagian ini, relasi harmonis antara manusia dan binatang tidak ada lagi. Peran manusia dalam ekosistem sebagai pemelihara (Kej. 1:28), berubah menjadi konsumen yang diizinkan Tuhan Allah untuk mengkonsumsi segala yang bergerak, yang hidup (ay. 3). Perubahan drastis ini kemungkinan besar disebabkan oleh peristiwa air bah yang menyapu seluruh daratan dan menghilangkan kesuburan tanah. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengembalikan struktur tanah dan kesuburannya setelah banjir, sehingga manusia diperbolehkan untuk memakan segala sesuatu, kecuali binatang yang masih hidup dan masih berdarah (ay. 4). Perintah Tuhan Allah kemudian beralih pada relasi antara manusia dan sesamanya (ay. 5-7). Tidak dapat dipastikan bahwa kejahatan yang pernah dilakukan manusia pra-air bah tidak akan terulang lagi, maka Tuhan Allah memberikan perintah bagi manusia untuk saling menjaga. Kata nepe (nyawa) merupakan kata kunci pada bagian ini. Nyawa atau kehidupan adalah sesuatu yang berharga karena milik Tuhan Allah sendiri, sehingga sebagai imago Dei manusia dilarang untuk saling membunuh. Tuhan Allah justru menghendaki supaya manusia semakin menambah jumlahnya dan menjalankan tugas untuk berkuasa atas bumi dan mencegah terjadinya tindak kekerasan dalam relasi antar manusia. Tuhan Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh sebagai representasi seluruh manusia serta semua yang bernafas di bumi (ay. 8-11). Pemulihan dari Tuhan Allah bersifat holistik, itulah sebabnya perjanjian ini juga disebut dengan the cosmic covenant (perjanjian kosmik). Dalam perjanjian ini, Tuhan Allah mengikat diri-Nya sendiri, membatasi murka-Nya atas bumi. Kata berît (perjanjian) yang muncul sebanyak tujuh kali dalam perikop ini mengindikasikan bahwa perjanjian ini bersifat sempurna dan penuh. Pada umumnya, istilah mengadakan perjanjian dalam bahasa Ibrani digunakan k rat berît (memotong perjanjian) untuk menunjukkan adanya penyembelihan binatang dalam mensahkan sebuah perjanjian. Namun, dalam perikop ini digunakan istilah istimewa, yakni h qîm berît. Kata h qîm adalah bentuk kausatif dari kata dasar qûm (bangkit, berhasil, terwujudnya kata atau rencana) untuk menyatakan bahwa Tuhan Allah sendiri menyebabkan/berinisiatif untuk memberlakukan atau meresmikan (Ing: establish) perjanjian-Nya, tanpa perlu korban persembahan yang disembelih. Tuhan Allah kemudian menandai perjanjian kekal ini dengan busur-Nya (ay. 12-17). Dalam bahasa Ibrani qe et, tidak hanya berarti pelangi di awan, tapi juga busur panah yang biasanya digunakan untuk memburu dan perang. Dalam pengertian ini, maka Tuhan Allah ditampilkan sebagai ksatria dalam peperangan yang bersenjatakan busur dan anak panah (bdk. Hab. 3:9, 2 Sam. 22:15, Mzm. 18:15) dan menjadi musuh manusia pada waktu air bah. Dia membidik dengan busur-Nya dan memanah manusia sebagai sasarannya. Tetapi sekarang, Dia menaruh busur-Nya sebagai tanda bahwa peperangan-Nya sudah selesai. Busur atau pelangi yang awalnya merupakan tanda permusuhan, tanda perang, kini menjadi tanda peringatan untuk Tuhan Allah bahwa Ia telah mengikat diri, tanda jaminan damai oleh-Nya kepada seluruh bumi. Janji-Nya kekal: tidak akan ada lagi penghancuran bumi dengan air bah. Dia sendiri akan senantiasa mengingat janji-Nya untuk memelihara, memberkati bumi dan seluruh ciptaan-Nya. MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN 1. Bencana alam yang menimpa orang percaya sering dianggap sebagai hukuman atas dosa manusia. Dalam situasi ini, dosa yang dimaksud adalah pengabaian tugas manusia sebagai care-taker terhadap alam. Selama ini alam hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, tanpa dirawat dan dipelihara. Sudah saatnya kita menjalani hidup dengan adab kepada alam dan menghentikan krisis ekologi. 2. Orang percaya harus berkomitmen untuk hidup dalam ketaatan dan kekudusan sebagai wujud pemulihan dari Tuhan Allah. Tindakan-tindakan yang mengedepankan ego, mengabaikan kaum marginal (kaum yang terpinggirkan), melupakan identitas sebagai hamba Tuhan Allah, harus dihilangkan. Komitmen untuk hidup baru dengan melakukan perintah-Nya adalah wujud cinta terbesar kepada-Nya. 3. Rekonsiliasi antara Tuhan Allah dan manusia melalui pengorbanan Yesus Kristus, menjadi titik tolak orang percaya untuk bertanggung jawab atas pemulihan relasi dengan sesama ciptaan. Dalam karya penebusan, pendamaian Yesus Kristus bukan hanya ditujukan bagi manusia, melainkan demi seluruh ciptaan. Oleh karena itu, orang percaya diajak untuk memandang alam dan seluruh ciptaan dalam relasi yang setara; semua dikasihi dan dipelihara Tuhan Allah. 4. Gereja harus berperan aktif agar terjadi keadilan ekologis, menghentikan semua tindakan eksploitasi alam yang berujung pada krisis ekologis. Gereja menjadi garda terdepan untuk membangun kesadaran spiritualitas ugahari (sederhana) dan menerapkan sustainable living lifestyle, yakni gaya hidup berkesinambungan dan ramah lingkungan guna menjaga keseimbangan ekosistem. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI 1. Apa pemahaman anda tentang Inilah tanda Perjanjian Yang Kuadakan Antara Aku dan Segala Makhluk Yang Ada Di Bumi , menurut Kejadian 9:1-17? 2. Jelaskan tantangan yang dihadapi gereja dalam menciptakan tatanan kehidupan dan relasi yang baik antara manusia dan alam! 3. Bagaimana peran dan upaya gereja dan pemerintah dalam menjaga kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem agar manusia dapat hidup dengan baik tanpa merusak alam? NAS PEMBIMBING: Yesaya 54:10 POKOK-POKOK DOA 1. Berdoa supaya orang percaya hidup dalam komitmen untuk terus memperbarui diri. 2. Berdoa bagi gereja dan semua orang percaya untuk terus memelihara alam sebagai sesama ciptaan. 3. Berdoa agar orang percaya yang terdampak bencana alam mendapat pertolongan dan tetap hidup taat dan beriman di tengah situasi kebencanaan. 4. Berdoa bagi gereja dan pemerintah supaya bekerja sama untuk menciptakan aturan yang menjaga kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem.

14 Jun 2026

Percaya Karena Mendengar Dan Tahu Yesus Juruselamat Dunia

ALASAN PEMILIHAN TEMA Perkembangan pesat teknologi informasi, di dalamnya kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence), telah membawa manusia memasuki sebuah zaman di mana informasi apa pun dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Hal ini sekaligus memunculkan apa yang disebut information overload atau banjir informasi. Di tengah banjirnya informasi, manusia dapat jatuh pada ketidakmampuan untuk memprioritaskan informasi yang penting dan membuang yang tidak penting. Dalam situasi seperti ini, seseorang memerlukan kecerdasan spiritual dan intelektual agar dapat menerima luapan informasi dengan kemampuan membedakan informasi yang akurat dan keliru. Sehingga orang-orang tidak sekadar tahu tentang informasi tertentu, memiliki pengetahuan yang banyak, tetapi juga hidupnya menunjukkan tanda-tanda perubahan dan pertobatan sesuai kehendak Tuhan Allah. Jangan sampai sebaliknya, luapan informasi yang mudah diakses tidak mampu disikapi dengan bijak, sehingga sangat penting bagi seseorang untuk menerima pendidikan dan pengajaran yang benar, yang didasarkan pada Injil Yesus Kristus. Dalam Injil, seseorang menjadi percaya karena mendengar dan mengetahui apa yang benar, yakni tentang Tuhan Allah, tentang dunia, dan tentang dirinya sendiri, yang membawanya kepada iman di dalam Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dalam kesadaran inilah dan dalam semangat bulan Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen GMIM, dipilih tema mingguan PERCAYA KARENA MENDENGAR DAN TAHU YESUS JURUSELAMAT DUNIA. PEMBAHASAN TEMATIS Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese) Tujuan Injil Yohanes adalah supaya orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, Anak Allah (pasal 20:30-31). Secara khusus dalam Yohanes 4, Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kepada seorang perempuan Samaria yang kelak meneruskan berita itu kepada banyak orang Samaria. Yesus Kristus telah mengklaim dan mendeklarasi bahwa Akulah Dia, yang menunjuk pada pengharapan yang dimiliki oleh perempuan tersebut dan banyak orang tentang Mesias yang akan datang (Yoh. 4:25-26). Apa yang dinyatakan Yesus Kristus tentang perempuan tersebut bahwa ia telah memiliki lima orang suami dan laki-laki yang sekarang bersama-sama dengannya bukanlah suaminya, telah membuat dia yakin bahwa Yesus Kristus adalah seorang nabi. Percakapannya yang lebih lanjut dengan Yesus Kristus telah membawa perempuan tersebut pada sebuah pertanyaan, Mungkinkah Dia Kristus itu? Kedatangan para murid sesudah kembali dari kota untuk membeli makanan terjadi pada momen yang tepat. Pada waktu itu (ay. 27) menunjuk pada waktu yang tidak terlalu cepat, sehingga para murid dapat mengganggu percakapan Yesus Kristus dan perempuan Samaria itu. Para murid disebut heran dengan percakapan tersebut mengingat Yesus Kristus adalah rabi dan ia seharusnya tahu bahwa seorang rabi tidak diperbolehkan berbicara dengan seorang perempuan di tempat umum, yakni perempuan yang bukan istrinya sendiri. Yesus Kristus sementara memberi pelajaran besar kepada murid-murid-Nya tentang emansipasi sejati perempuan dalam kerajaan-Nya. Walaupun para murid heran, namun penghormatan kepada Yesus Kristus membuat mereka tidak berani bertanya apa pun. Perempuan itu lantas meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota (ay. 28). Tempayan (Yun. hudria; Ing. water jar; Ind. tempat air) yang dibawa perempuan tersebut adalah tembikar yang terbuat dari tanah liat dan sangat mungkin berukuran besar. Padahal tujuannya datang ke sumur itu untuk mengambil air, tetapi ia meninggalkan tempayan itu lalu pergi ke kota untuk memberitahu orang-orang tentang Yesus Kristus. Apa yang dilakukan perempuan ini dapat dilihat secara simbolis sebagai tanda dari seorang murid yang mau meninggalkan segala sesuatu untuk pergi bersaksi tentang Yesus Kristus. Kesaksian yang dibawa perempuan tersebut adalah Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu? (ay. 29). Apa yang diserukan perempuan ini menyerupai panggilan Yesus Kristus kepada dua murid pertama-Nya (Yoh. 1:39), juga panggilan Filipus kepada Natanael (Yoh. 1:47). Pengetahuan dan pengenalan Yesus Kristus atas hidup pribadinya telah meninggalkan kesan yang kuat dalam diri perempuan tersebut. Secara perlahan ia mulai menunjukkan perkembangan dalam pengenalannya kepada Yesus Kristus. Ia tidak sekadar memandang Yesus Kristus sebagai seorang Yahudi saja, juga tidak berhenti pada pandangan bahwa Yesus Kristus adalah seorang nabi. Pertanyaannya mengindikasikan keyakinan yang semakin bertumbuh dalam hatinya bahwa Yesuslah Kristus itu. Kesaksiannya mendorong orang-orang untuk datang pada Yesus Kristus. (ay. 30) Ajakan para murid agar Yesus Kristus segera makan menunjukkan perhatian para murid tentang keadaan fisik guru mereka, namun di saat bersamaan menunjukkan kegagalan mereka dalam memahami Yesus Kristus dan misi-Nya (ay. 31-33). Bagi Yesus Kristus, pemenuhan terhadap misi-Nya jauh lebih penting dari makanan untuk tubuh. Apa yang memuaskan Yesus ialah melaksanakan kehendak Bapa-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (ay. 34). Pernyataan Yesus Kristus yang mengutip pernyataan para murid bahwa empat bulan lagi akan tiba musim menuai diartikan secara rohani. Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan sudah matang untuk dituai (ay. 35). Penting untuk diingat bahwa saat Yesus Kristus mengatakan hal ini, orang-orang Samaria yang datang kepada-Nya. Orang-orang inilah yang dimaksudkan Yesus Kristus sebagai ladang yang siap dituai dan Ia memberi tugas kepada murid-murid-Nya untuk pergi mengumpulkan mereka laksana hasil panen. Upah yang diterima para penuai (ay. 36) adalah mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur, yang menunjuk pada Yesus Kristus sendiri dan penuai, yakni para murid, sama-sama bersukacita. (bnd. Yoel 3:18; Amos 9:13) Sukacita di waktu panen ini menunjuk pada pekerjaan yang berkesinambungan dari mereka yang menabur di waktu yang lampau dan mereka yang menuai kelak, sebagaimana ungkapan: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. Hal ini menegaskan apa yang telah dilakukan oleh para nabi sampai pada pelayanan Yohanes Pembaptis dan penuaiannya dilakukan oleh para murid. Maka Yesus Kristus mengutus para murid (ay. 38). Kalimat Yesus Kristus, Aku mengutus kamu ditujukan secara khusus kepada para murid, mengantisipasi penugasan dan pengutusan selanjutnya yang akan diberikan kepada mereka (lih. Yoh. 17:18; 20:21). Kisah yang dimulai pada ayat 28-29 dilanjutkan di sini, yakni banyak orang Samaria dari kota itu yang menjadi percaya kepada Yesus Kristus karena perkataan perempuan itu (ay. 39). Pada titik ini ditunjukkan bertambahnya secara signifikan orang Samaria yang menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Ia tinggal bersama mereka selama dua hari bukan hanya menunjukkan kerinduan mereka untuk mendengar-Nya, namun menjadi kesempatan bertambahnya orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya (ay. 40-41). Kesaksian perempuan Samaria telah membuka jalan bagi pemahaman tentang Yesus Kristus yang semakin utuh dari orang-orang Samaria yang datang kepada-Nya. Perkataan perempuan itu (Yun. he lalia; Ing. talk; percakapan, ucapan lidah) telah membawa mereka datang pada Yesus Kristus dan kini mendengar langsung perkataan-Nya, yakni firman-Nya (Yun. ho logos; Ing. word; firman). Mereka kini telah mendengar dan mengambil kesimpulan sendiri tentang Yesus Kristus, lalu percaya. Mereka tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia (ay. 42). Dengan menyebut Yesus Kristus sebagai Juruselamat, orang-orang Samaria mengakui bahwa keselamatan memang datang dari bangsa Yahudi (ay. 22), namun keselamatan itu dimaksudkan bagi mereka juga. Di sinilah ditegaskan keselamatan di dalam Yesus Kristus yang bersifat universal. MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN 1. Perjumpaan dengan Yesus Kristus selalu menghasilkan kesadaran diri dan kesaksian kepada orang lain. Di hadapan Tuhan Allah yang kudus kita menjadi tahu siapa diri kita yang sebenarnya, orang berdosa yang membutuhkan anugerah-Nya, yakni pengampunan dan pemulihan. Di dalam Yesus Kristus tersedia jaminan itu. Hal ini mendorong seseorang untuk bersaksi tentang Yesus Kristus dan karya-Nya yang menyelamatkan. Kesaksian seseorang tentang Yesus Kristus dimaksudkan agar orang-orang yang mendengar kesaksian itu datang dan mendengar tentang-Nya, lalu memahami dan percaya bahwa Dialah Juruselamat dunia yang menyediakan pengampunan, pemulihan dan keselamatan. 2. Gereja Tuhan dipanggil untuk terus-menerus menyaksikan tentang Yesus Kristus di tengah dunia yang terus mengalami perkembangan dan perubahan, khususnya dalam bidang teknologi informasi. Kesaksian gereja yang nyata dalam hidup orang percaya menjadi jalan bagi pemenuhan Amanat Agung agar semua bangsa menjadi murid-Nya. Kesaksian itu melalui perkataan dan tindakan nyata harus dilandasi kebenaran Alkitab agar orang-orang yang mendengar dan melihat kesaksian itu sampai pada pengetahuan yang benar tentang Yesus Kristus dan menjadi percaya kepada-Nya. Di sinilah pentingnya pemberitaan Injil dan pendidikan Kristen berjalan bersama dalam keteladanan. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI: 1. Apa yang dimaksud Percaya Karena Mendengar Dan Tahu Yesus Juruselamat Dunia menurut Yohanes 4 : 27 42? 2. Mengapa Pelayan Khusus harus saling membantu demi kemajuan pelayanan gereja Tuhan? 3. Bagaimana cara gereja dan keluarga mengupayakan agar pemberitaan tentang Yesus Kristus sebagai jalan keselamatan semakin menjangkau banyak orang? POKOK POKOK DOA: 1. Agar keluarga Kristen meneguhkan komitmen untuk mengenal dan mengasihi Yesus Kristus setiap hari, melalui doa, firman Tuhan dan ibadah. Dengan komitmen ini, penginjilan dan pendidikan Kristen berjalan bersama-sama dalam membentuk setiap anggota keluarga Kristen bagi misi Allah. 2. Agar setiap keluarga Kristen dan masing-masing orang percaya mau menjadi saksi bagi Yesus Kristus di mana pun mereka pergi dan berada, bukan hanya di rumah, melainkan di sekolah, tempat bekerja dan melayani, serta di mana saja. 3. Agar gereja Tuhan Allah, secara khusus Gereja Masehi Injili di Minahasa, semakin diberkati untuk menjadi alat bagi pemberitaan Injil dan pendidikan Kristen bagi generasi ke generasi di tanah Minahasa dan di seluruh dunia.

07 Jun 2026

Memberitakan Kasih Setia-Mu Di Waktu Pagi Dan Kebenaran-Mu Di Waktu Malam

ALASAN PEMILIHAN TEMA Pada masa kini banyak orang kelelahan karena hidup dengan rutinitas tanpa jeda dan tanpa makna, dengan gaya hidup cenderung konsumtif, kompetitif dan penuh keluhan. Kehidupan modern yang sibuk dan penuh tekanan sering membuat orang lupa merenung dan bersyukur. Banyak orang di pagi hari langsung disibukkan dengan telepon seluler, pekerjaan, masalah dan lupa bersyukur. Di malam hari tidak ada ruang untuk evaluasi diri, doa malam, renungan singkat dan mengucap syukur atas kasih setia Tuhan. Spiritualitas hanya muncul saat krisis, sukacita atau ketika beribadah di hari Minggu. Maka, di dunia yang penuh dengan ketidakpastian secara ekonomi, kesehatan, iklim dan konflik, orang percaya perlu membentuk sikap syukur dan pujian sebagai gaya hidup dan bukan sekadar aktivitas agama. Seharusnya relasi dengan Tuhan adalah relasi di setiap waktu. Oleh karena itu tema perenungan adalah Minggu ini MEMBERITAKAN KASIH SETIA-MU DI WAKTU PAGI DAN KEBENARAN-MU DI WAKTU MALAM. PEMBAHASAN TEMATIS. Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese) Nama Kitab Mazmur dalam LXX (Septuaginta) adalah Psalmoi. LXX adalah Kitab Perjanjian Lama Ibrani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Kata Yunani Psalmoi dari kata kerja psallô yang artinya memetik atau mendentingkan, mula-mula digunakan untuk permainan alat musik petik. Kemudian kata itu menunjukkan nyanyian (psalmos) atau kumpulan nyanyian (psalt rion). Dalam Lukas 20:42, dipakai judul dalam bahasa Yunani secara utuh Kitab Mazmur (biblios psalmôn). Dalam bahasa Ibrani ada kata mizmor yang artinya sebuah nyanyian yang dinyanyikan dengan iringan musik, namun judul Kitab Mazmur dalam bahasa Ibrani adalah tehillim artinya puji-pujian atau nyanyian pujian. Mazmur 92:1-16 menurut isinya digolongkan dalam Mazmur Madah (kata-kata pujian) yakni seruan untuk beribadah di hari Sabat. Sabat adalah hari yang dikuduskan Tuhan Allah dan harus disucikan dengan menjauhkan diri dari kesibukan kerja (Yes. 58:13). Umat mengabdikan diri dengan memuji dan menyembah Tuhan Allah. Dasar dari pujian (madah) adalah tindakan yang tunduk dan patuh (ibadah) yang mencerminkan kemuliaan Tuhan Allah di dunia. Mazmur 92 bercirikan kegembiraan yang mendalam terhadap Tuhan Allah yang adil dan murah hati. Mazmur ini dinyanyikan pada pembukaan perayaan Sabat, yang dimulai pada sore hari setelah matahari terbenam. Ayat 2-4 Bersyukur kepada Tuhan itu baik. Kata baik (Ibr. tôb,) artinya menyenangkan, patut, benar dan mempesona. Di ayat 2 kalimat menyanyikan syukur (Ibr. l h d wt) artinya mengucapkan terima kasih. l h d wt adalah kata kerja kausatif yang menjelaskan karena tindakan yang dilakukan oleh Tuhan Allah (Ibr. Yahweh) dengan menunjukkan keadilan maka pemazmur mengucapkan terima kasih. Menyanyikan mazmur (Ibr. l zammêr) artinya menyanyikan pujian dengan sungguh-sungguh (khusyuk) bagi Yang Mahatinggi (Ibr. 'ely wn). Perlu diperhatikan bahwa nama Tuhan digunakan sampai tujuh kali (ayat 2, 5, 6, 9, 10, 14, 16). Tujuh adalah simbol kesempurnaan Ilahi (Kej. 2:2, 3), karena Tuhan Yang Mahatinggi itu sempurna maka sepatutnya saat menyanyikan pujian haruslah dengan serius, penuh penyerahan dan sepenuh hati. Isi nyanyian pujian di ayat 3 adalah tentang Tuhan sebagai sumber kasih (Ibr. hasdek ; kasih karunia, kebaikan) dan kesetiaan (we' m n t k ; keteguhan, keandalan). Memberitakan kasih setia Tuhan Allah pada saat fajar pagi sebab telah melalui bahaya dan kesepian di malam hari karena saat tidur, tubuh tidak berdaya dan tidak sadar. Pemazmur memberitakan (Ibr. l haggîd) tentang kesetiaan Tuhan yang dapat diandalkan lewat perlindungan dari kedahsyatan malam dan panah yang terbang di waktu siang (Mzm. 9:5). Pagi dan malam merujuk pada waktu yang berbeda dalam satu hari, artinya kebaikan Tuhan Allah dapat dipercaya karena berlaku dalam keseluruhan siklus waktu. Ayat 4, alat musik sepuluh tali, gambus dan kecapi digunakan untuk mengiringi nyanyian pujian atas pemeliharaan Tuhan Allah. Di bait suci yang memainkan alat musik saat perayaan adalah orang Lewi (1 Taw. 16:4, 5). Ayat 5-12, Motif ucapan syukur. Bernyanyi dengan sukacita dan dalam kegembiraan karena pekerjaan (perbuatan) Tuhan Allah (Mzm. 92:16). Pemazmur mengucap syukur karena Tuhan Allah telah membuatnya bersukacita dan bersorak-sorai. Dia telah menyatakan kasih setia-Nya yang teguh sehingga dia mengungkapkannya dengan rasa kagum. Perbuatan Tuhan Allah yang besar dan penuh rahasia ini tidak dimengerti oleh orang bodoh dan bebal (Ibr. Baar; bodoh) dan bebal (Ibr. Kesil: Tolol, Dungu), mereka adalah lawan (seteru) pemazmur. Mereka tidak memahami dan menyadari bahwa hanya Tuhan Allah yang sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan besar dan yang patut dipuja serta disembah untuk selama-lamanya. Keangkuhan orang bodoh dan bebal akan membawa mereka pada kebinasaan. Di ayat 11-12, meninggikan tanduk berarti Tuhan membuat pemazmur siap dan berani untuk menghadapi musuh-musuhnya. Tanduk adalah lambang kekuatan dan kekuasaan (Mzm. 132:17). Tuhan Allah juga menuangkan minyak baru sebagai tanda kesegaran dan kebahagiaan yang akan dialami pemazmur. Karena kasih setia Tuhan ini pemazmur tidak takut lagi menghadapi lawannya dan dia sangat bersyukur. Ayat 13-16, Berkat orang benar. Orang benar kontras dengan orang bodoh, bebal, fasik dan orang yang berbuat jahat. Orang fasik bertunas tetapi akan segera dimusnahkan untuk selama-lamanya (lihat ayat 8). Sebaliknya orang benar bertunas dan bertumbuh subur seperti pohon korma dan pohon aras di Libanon. Keduanya adalah gambaran tentang kekuatan dan panjang umur di Timur Dekat Kuno. Pohon korma bertumbuh di daerah oasis yakni daerah subur dan terpencil di tengah gurun yang memiliki mata air atau sungai. Tingginya bisa mencapai 10-20 meter dengan daun-daunnya yang hijau. Pohon berumur panjang yang menyediakan makanan bagi manusia dan hewan. Buahnya manis dan lezat serta cocok untuk makanan bagi penduduk di daerah yang panas. Itulah sebabnya pohon korma itu melukiskan keadaan bahagia dan diberkati. Kayunya juga untuk berbagai peralatan rumah tangga. Demikian juga pohon aras Libanon, tingginya bisa mencapai 30 meter dan besar batangnya bisa lebih dari 2 meter. Pohon ini dikaitkan dengan umur panjang, keagungan, kekuatan dan simbol kerajaan. Raja Hiram dari Tirus mengirim kayu dari pohon aras Libanon untuk membangun istana Daud (2 Sam. 5:11) dan kepada Salomo untuk pembangunan bait suci di Yerusalem (1 Raja-Raja. 5:6-10). Orang benar yang di tanam di bait Tuhan artinya mereka tetap dekat dengan Tuhan Allah dan Bait-Nya itu akan membuat mereka menikmati berkat Tuhan Allah baik sejak masa muda sampai di masa tua. Pengalaman dengan Tuhan Allah akan mereka beritakan di sepanjang hidup mereka. Berita tentang Tuhan Allah yang selalu berbuat adil dan benar dalam perjalanan hidup mereka. Begitulah kehidupan orang benar, mereka akan selalu subur dan segar karena tanah tempat bertumbuhnya ialah bait Tuhan. Tuhan Allah adalah gunung batu pemazmur karena tidak ada kecurangan pada-Nya. Gunung batu biasanya dihubungkan dengan perlindungan (Mzm. 94:22) namun dalam ayat ini menunjuk pada keadilan dan kebenaran. MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN. 1. Suatu keistimewaan bagi orang percaya diizinkan untuk memuji Tuhan atas kasih setia-Nya dan berharap untuk diterima di pagi dan malam hari, tidak hanya pada hari Sabat tetapi setiap waktu, tidak hanya di depan umum, tetapi secara pribadi di dalam keluarga. 2. Orang percaya harus memiliki kehidupan rohani yang berakar pada pujian dan syukur. Hal ini bukan hanya soal ritual agama seperti ibadah rutin di hari Minggu atau di kolom dan BIPRA. Tetapi sikap bakti dan tindakan yang dilandasi rasa hormat, takjub dan kagum kepada Tuhan yang sempurna dan adil. 3. Orang fasik kelihatan hidupnya makmur namun mereka tidak akan bertahan. Sebaliknya, orang benar bertumbuh dan berbuah bahkan sampai di masa tua. Berkat rohani tidak selalu tampak langsung tetapi berakar lebih dalam dan bertahan lama. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI: 1. Apa yang saudara pahami tentang Memberitakan Kasih Setia-Mu di Waktu Pagi dan Kebenaran-Mu di Waktu Malam, menurut Mazmur 92:1-16. 2. Mengapa menurut pemazmur, memuji dan bersyukur kepada Tuhan itu baik? 3. Bagaimana kita bisa tetap bertumbuh dan berbuah dalam iman seperti pohon korma dan pohon aras meskipun dalam kesulitan dan pergumulan? NAS PEMBIMBING: Mazmur 143:8 POKOK-POKOK DOA: 1. Agar jemaat mengagumi dan memuji kebesaran karya Tuhan dalam kehidupan pribadi, keluarga, gereja dan masyarakat. 2. Kiranya jemaat dijauhkan dari jalan orang fasik dan tidak iri kepada keberhasilan yang sementara. 3. GMIM bertumbuh dalam kebenaran dan berakar kuat dalam Tuhan seperti pohon korma dan pohon aras.

Acara Mendatang

Kalender Lengkap
Belum ada jadwal acara mendatang.
Layanan Digital

Akses Layanan Cepat

Kas Gereja

Peta Jemaat

Hubungi Kami

Download Warta

Asisten Hagios

Online Sekarang

Shalom! Ada yang bisa saya bantu terkait jadwal pelayanan, informasi sejarah, atau letak jemaat?